Dr. Irsyadi, S.Ag., M.Ag
(Sekretaris PTA Jambi)
Apakah pernyataan berteman lebih dari saudara itu hanya ungkapan semata? Atau memang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari? Dua pertanyaan itu akan sangat menarik untuk dicermati. Kita sendiri bisa membuktikan, apakah ungkapan itu kita temukan langsung dalam hubungan pertemanan kita atau tidak. Jangan-jangan anda menemukan hubungan pertemanan teman-teman di sekitar anda dengan teman-temannya seperti berteman lebih dari saudara, tapi tidak dengan anda. Masalahnya di mana? Apakah anda yang tidak bisa menjalin hubungan pertemanan dengan baik?
Lantas apakah semua teman itu akan membawa kita ke arah positif semua? Tak jarang, jebakan pertemanan membuat kehidupan sesoerang berubah ke arah negatif dan terbenam. Saya sering menyebutkan ada empat kualitas teman dalam kehidupan kita.
Pertama. Ia bersama kita, ia adalah kita. Mendapat teman seperti ini tentu setelah melalui beberapa tahapan uji coba. Disadari atau tidak prinsipnya orang-orang yang mendapatkan pengakuan ia bersama kita dan dia adalah kita tentu telah melakukan banyak hal prioritas dalam menjalin hubungan pertemanan. Ia selalu siap untuk berada dalam lingkaran pertemanan, dan ia siap melakukan semua hal positif bersama kita. Ia akan menemukan energi positif dalam pertemanan dan juga mampu menghadirkan energi positif dalam hubungan pertemanan itu. Ia tidak akan memberikan energi atau waktu sisa untuk kita, tapi ia akan selalu menyiapkan waktu, bahkan memprioritaskan waktu untuk kita. Itu sangat luar biasa.
Ia akan selalu terlihat gembira jika bersama kita. Kita nantinya akan mengetahui apakah ia tulus dan sportif dalam berteman dari hubungan yang dijalani. Tentu teman seperti ini layak mendapatkan perhatian lebih dari kita. Banyak cara membangun jembatan ukhuwah, merekam jejak hati pada saudara kita, yang hingga akhirnya akan tercipta patri pertemanan yang berkekalan.
Kedua. Ia bersama kita, tapi ia bukan kita. Kualitas teman yang kedua ini harus mendapatkan perhatian serius dalam menjalin hubungan pertemanan. Kenapa demikian? Karena ia selalu berada bersama lingkaran pertemanan yang kita bangun, tapi ia bukanlah bagian dari pertemanan kita. Ada kekhawatiran yang muncul terhadap dirinya. Kita harus berupaya untuk menjadikannya bagian dari pertemanan kita. Kita harus bina dirinya agar menjadi kekuatan solid bersama tim.
Meskipun pada prinsipnya kita tetap khawatir teman seperti ini akan menghujam dari belakang setelah mengetahui semua hal tentang kita. Bisa diuji dengan memberikannya kepercayaan, apakah ia akan melakukan upaya maksimal, atau memanfaatkan untuk mencari kelemahan. Semua itu akan menjadikan ia naik level atau tidak.
Parahnya, pada kualitas ini, seseorang hanya ingin tertawa, berbagi, dan bersama kita hanya karena menginginkan sesuatu. Hanya ingin dekat sesaat, karena ada tujuan, setelah tujuannya tercapai, ia akan kembali acuh dan tidak peduli. Ia tak mau memiliki hubungan baik yang berkekalan, yang dianggap hanya akan mengeluar biaya saja. Sering kah menemukan yang demikian?
Ketiga. Ia tidak bersama kita, tapi ia adalah kita. Kualitas ke tiga ini sering kita temui. Ia tidak bersama kita hanya karena jarak dan waktu, tapi sebenarnya ia memiliki keinginan untuk punya waktu banyak bersama kita. Ia memiliki perhatian khusus untuk kita. Ia sering mengamati dan ingin terlibat dalam banyak hal. Ia akan ikut senang apabila melihat kita mendapatkan kebahagian, dan begitupun akan merasakan sedih, apabila ia melihat kita dalam kesesusahan.
Bahkan, orang yang tidak bersama kita tapi ia adalah kita ini, biasanya sudah punya hubungan yang sangat spesial. Seperti pernah memiliki hubungan kedekatan yang sangat luar biasa. Jarak dan waktu saat ini bukan penghalang, karena ia sudah masuk ke level ia adalah kita, ia adalah bagian dari kita. Ia tidak akan rela melihat temannya salah. Ia akan sangat berani menegurmu jika salah, ia melakukan bukan karena benci, melainkan karena rasa sayang agar temannya hidup lebih baik lagi ke depannya.
Ke empat, ia tidak bersama kita dan ia bukan juga kita. Kualitas pertemanan seperti ini biasanya karena seseorang memang tidak mau ambil bagian dalam satu kelompok atau pun memiliki hubungan kedekatan dengan seseorang atau siapapun. Ia selalu menganggap memiliki hubungan dekat dengan seseoarang hanya membuat repot dan menghabiskan waktu dan energi saja.
Kita harus berupaya untuk mengajak ke arah yang lebih baik, meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama. Tapi lakukan saja, meskipun ia tidak mau. Minimal tugas kita tugas kita selesai menjaga ukhuwah antar sesama.
Dari empat kualitas teman itu, kita akan mengetahui, sebenarnya kita berada di level yang mana dalam hubungan pertemanan dengan seseorang. Apakah kita berada dalam level atau tingkatan yang dinilai positif atau berada di level yang justru dinilai negatif. Itu semua tergantung dari apa yang kita perbuat dan kita pertontonkan selama ini kepada teman-teman yang ada di sekitar kita.
Sudah kita prioritaskan teman kita? Apakah kita sudah perhatian dengan teman–teman kita? Apakah kita telah ikut merasakan kebahagiaan yang teman kita rahasakan, atau merasakan duka ketika teman mendapatkan ujian? Atau apakah kita sudah pernah mengingatkan dan menguatkan ketika teman berada dalam kebimbangan.
Hasilnya, kita sendiri yang menentukan, dan orang lain yang akan menilai.
Makanya, dari kualitas-kualitas itu, apabila kita tergolong, orang yang bersama kita dan ia adalah kita, atau tidak bersama kita tapi ia adalah kita. Apa yang kita dapat? Kita akan mendapati rasa berteman lebih dari saudara. ***
Disadur oleh Noprizal, S.H.I., M.H
(Panmud Gugatan PA Sungai Penuh)



